Terapi psikoanalisa
Psikoterapi bertujuan untuk membantu klien menyelesaikan
permasalahan yang dihadapinya. Ada beberapa macam jenis terapi, salah satunya
adalah terapi psikoanalisis. Psikoanalisis merupakan konsep yang dikemukakan
oleh Sigmund Freud. Konsep ini mengungkapkan tahapan psikoseksual yang terjadi
dalam kehidupan individu. Tahapan-tahapan tersebut adalah sebagai berikut,
anal, oral, falik, laten, dan genital. Selain itu Freud juga terkenal dengan
konsep mengenai stuktur ego.
Terapi psikoanalisis sendiri lebih banyak menggunakan metode
di mana klien mengungkapkan materi yang berada dalam alam bawah sadar yang bisa
ditangani. Fokusnya terutama pada pengalaman di masa kanak-kanak yang dibahas,
direkonstruksi, diinterpretasi dan dianalisis. Terapi psikoanalisis dapat
berjalan dengan baik bila terapis dapat menjalin hubungan yang transferens
dengan klien. Yang dimaksud dengan hubungan yang transferens adalah hubungan di
mana klien dapat menyampaikan mengenai perasan dan khayalannya, baik itu yang
positif maupun negatif. Dalam proses transferensi klien menjalin kelekatan
dengan terapisnya.
Terapis memiliki kepedulian untuk membantu klien mendapatkan
kesadaran diri, kejujuran, hubungan antar pribadi yang efektif, menangani
kecemasan dengan cara yang realistic, dan mengontrol perilaku yang implusif dan
irasional. Sasaran terapi ini adalah untuk menjadikan klien yang tadinya tidak
sadar menjadi sadar dan memperkokoh ego sehingga perilaku lebih didasarkan pada
hal yang nyata.
Terapis lalu membuat penafsiran untuk mengajarkan klien
tentang makna tingkah lakunya sekarang sambil menghubungkannya dengan masa lalu
klien. Tujuan terapi berdasarkan pendekatan Psikoanalisa menurut Corey dalam
Lubis (2011), yaitu:
1. Membuat hal-hal
yang tidak disadari menjadi disadari.
2. Merekonstruksi
kepribadian dasar.
3. Membantu klien
menghidupkan kembali pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak dengan menembus konflik-konflik yang di represi.
4. Memunculkan
kesadaran intelektual.
Menurut Lubis (2011) tujuan khusus psikoanalisa adalah
membentuk kembali struktur kepribadian individu melalui pengungkapan hal-hal
yang tidak disadari. Untuk itu, klien akan dibawa mundur kepada pengalaman masa
kanak-kanaknya yang kemudian pengalaman tersebut akan dianalisis dan
ditafsirkan sehingga terjadi rekonstruksi kepribadian pada diri klien. Cottone
dalam Lubis (2011) menambahkan tujuan psikoanalisis adalah untuk memperkuat ego
(ego strength) klien dan menempatkannya dalam posisi yang benar sehingga mampu
memilih secara rasional. Ego strength bermakna sebagai kemampuan klien
mengintegrasikan id dan superego tanpa ada konflik dan usaha represi.
Selanjutnya tujuan psikoanalisa secara perinci juga dikemukakan oleh Nelson
Jones dalam Lubis (2011), antara lain:
1. Bebas dari
impuls
2. Memperkuat
realitas atas dasar fungsi ego.
3. Mengganti
superego sebagai realitas kemanusiaan, bukan sebagai hukuman standar moral.
Kekurangan dalam metode psikoanalisis adalah :
·
Pandangan yang terlalu merendahkan martabat
kemanusiaan
·
Tidak
memiliki konsekuensi-konsekuensi empiris
·
Proses penalaran tidak dikemukakan secara
eksplisit
·
Tidak menjawab bagaimana pengaruh timbal balik
antara kateksis dan anti kateksis
Kelebihan dalam metode psikoanalisa adalah :
·
Adanya motivasi yang tidak disadari memungkinkan
seseorang untuk dapat berbuat “lebih”
·
Dapat
menggali informasi lebih dalam
·
Berusaha
menggambarkan individu-individu sepenuhnya yang hidup sebagian dalam dunia
kenyataan dan sebagian lagi dalam dunia khayalan, tetapi sekaligus mapu
berpikir dan bertindak secara rasional
Sumber :
Correy, Gerald. 1995. Teori dan praktek dari konseling dan
psikoterapi. Edisi ke 4. Diterjemahkan oleh : Drs. Mulyarto. Semarang : IKIP
Semarang Press.
Hall, C.S. and Lindzey. (1993). Teori-Teori Psikodinamik
(Klinis). Kanisius : Yogyakarta
Lubis, Lumongga Namora. (2011). Memahami Dasar-Dasar
Konseling dalam Teori dan Praktik. Jakarta: Kencana Prenada Media Group
Tidak ada komentar:
Posting Komentar